November 2011 | Kunjungan Tim b-panel Ke Kedutaan Besar Austria Jakarta

Pada hari Selasa, 25 Oktober 2011 tim b-panel® melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Austria di Jalan Diponegoro 44, Jakarta Pusat. Gedung ini merupakan gedung pertama di Indonesia yang mendapat Greenship Certification dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Tim b-panel yang berjumlah 8 orang disambut oleh Mr. Michael Jan Swoboda, Counselor and Consul of Austrian Embassy. Rombongan diajak ke ruang auditorium untuk mendengarkan presentasi singkat dan tanya jawab mengenai bangunan kedutaan yang ramah lingkungan ini. Setelah presentasi, Mr. Swoboda membawa rombongan keliling gedung untuk melihat fitur-fitur hemat energi yang digunakan pada gedung tersebut; mulai dari kantor staf, dapur, hingga ke para (attic), dan dak atap, di mana terdapat water chiller yang digunakan sebagai pengganti A/C. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai gedung kedutaan.


Gambar 1 – Tim b-panel dengan Mr. Michael Jan Swoboda (memakai jas) di halaman belakang Kedutaan Besar Austria

Desain gedung yang digunakan merupakan hasil kompetisi arsitektural yang diselenggarkan oleh Departemen Luar Negeri Austria. Kompetisi ini dimenangkan oleh konsultan arsitek ‘POS Architekten’ yang berbasis di Vienna yang dikepalai oleh Fritz Oettl. Dia bekerja sama dengan arsitek lokal, Jatmika Suryabrata dan kontraktor lokal, PT. Pembangunan Perumahan (PP). Desain ini dapat mendemonstrasikan teknik tradisional, material lokal, dan teknologi modern pada iklim tropis, sehingga lingkungan yang berkualitas tinggi, kenyamanan termal, dan arsitektur berkesinambungan dapat dicapai. Proyek bernilai 1,7 juta dolar Amerika ini dimulai pada tahun 2010 dan mulai beroperasi pada Juni 2011. Gedung berlantai dua ini memiliki luas kurang lebih 1.100 m2. Gedung ini terdiri dari kantor-kantor untuk staf kedutaan besar, beberapa ruang pertemuan, dan sebuah auditorium.

Pandhit Wirawan dari PT. PP mengatakan bahwa aplikasi dari teknologi hijau dapat mereduksi penggunaan energi mencapai 75%. Bangunan konvensional menggunakan energi 110 kVa (kilovolt-amperes), sedangkan bangunan ini hanya menggunakan energi 60 kVa. Desain dari bangunan ini menggunakan prinsip effective shading (akibat adanya atap yang menggantung dan wooden screen) yang memungkinkan cahaya dan suhu alami yang cukup untuk setiap ruangan. Selain itu, jendela-jendela secara hati-hati diorientasikan pada arah utara-selatan untuk mengurangi beban termal dari sinar matahari. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 2. Kebanyakan ruangan tidak menggunakan pendingin ruangan, tetapi bergantung pada radiant cooling system, di mana suhu permukaan dinding, lantai, dan langit-langit didinginkan untuk menghilangkan panas. Permukaan luar gedung dijaga terpadu. Gedung ini menggunakan insulasi gold foam (terbuat dari extruded polystyrene) setebal 15 cm (lihat Gambar 3) dan jendela double-glazed yang mengurangi beban transmisi dari panas tropis. Bangunan ini kedap udara untuk mencegah masuknya kelembaban dan panas ke dalam ruangan. (www.jakartapost.com dan buklet ‘The Green Austrian Embassy Jakarta’)


Gambar 2 – Prinsip effective shading pada bangunan ( sumber: www.pos-architecture.com )


Gambar 3 – Insulasi yang digunakan pada kedutaan ( sumber: www.datragroup.com )

Bangunan ini menggunakan concrete core temperature control (CCTC) yang menciptakan pendinginan. Air yang dingin bersirkulasi melalui pipa-pipa di dalam beton pada langit-langit. Udara di luar disaring dan dikeringkan. Gedung ini tidak menggunakan pendingin ruangan konvensional, memberikan kondisi ruangan yang sempurna pada suhu 25oC dan kelembaban 60%, tanpa arus udara (draft) yang tidak menyenangkan. Usaha lain dalam konservasi energi adalah penggunaan air yang dikumpulkan dari air hujan. Air hujan ditampung pada tank yang juga digunakan pada septic tank dan irigasi taman. Konsep-konsep hijau yang digunakan dijabarkan pada Gambar 4 dan sistem hijau ini dapat mengurangi emisi CO2 per tahun hingga hampir 85% yang dilampirkan pada Gambar 5.

Panel tenaga surya seluas 96 m2 menghasilkan listrik untuk memanaskan air dan mengeringkan udara. Kebutuhan energi akhir untuk keseluruhan operasional dari bangunan yang meliputi pendinginan, dehumidifikasi (proses pengurangan kadar air dalam udara), ventilasi, air panas, lampu, dan auxiliary power dapat dikurangi hingga mencapai 31,25 kWh/m2. Penggabungan sistem ini dan penggunaan insulasi panas serta kekedapan udara mempunyai efek yang mencengangkan untuk mengurangi konsumsi energi, yaitu 17% dari bangunan konvensional.

Pandhit mengatakan konsep hijau tidak hanya diaplikasikan pada desain bangunan, tetapi juga selama masa konstruksi. Tidak ada limbah dihasilkan pada proses konstruksi. Limbah cair dari campuran beton didaur ulang dan penggunaan kayu dikurangi. Selama proses konstruksi, para pekerja dihimbau untuk bersepeda dari kantor sementara di Jalan Bonang ke lokasi proyek. Para pekerja juga menggunakan aluminium flask pengganti kap plastik sebagai tempat minum untuk mengurangi penggunaan sampah. Di depan kantor sementara, banyak terdapat tanaman pot untuk menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan sejuk. Para insinyur juga mengatakan bahwa tidak ada pohon yang ditebang untuk proyek ( www.jakartapost.com ).


Gambar 4 – Fitur-fitur pada gedung kedutaan ( sumber: www.pos-architecture.com )


Gambar 5 – Pengurangan emisi CO2 ( sumber: www.pos-architecture.com )

Dari kunjungan ini, tim b-panel® mendapatkan pengetahuan baru mengenai teknologi ramah lingkungan yang diterapkan pada bangunan untuk mengurangi biaya listrik dan menurunkan emisi CO2 dan merasakan efek secara langsung, seperti kenyamanan termal dan ketenangan pada bangunan yang diterapkan fitur-fitur teknologi hijau tersebut. Selain itu, tim dapat mempelajari sebuah keindahan arsitektur minimalis tropis yang diterapkan. Pengalaman ini merupakan sebuah perjalanan yang menyenangkan, untuk menciptakan generasi bangunan-bangunan di Indonesia yang semakin berwawasan hijau di masa yang akan datang.

Print Friendly